Pendidikan lebih dahulu
Teknologi dipilih karena membantu sekolah, bukan sekadar terlihat modern.
ASIS—Sistem Informasi Sekolah—dibangun agar sekolah dan madrasah Indonesia dapat mengelola pendidikan secara utuh tanpa terhalang biaya lisensi, aplikasi yang terpisah, atau teknologi yang sulit digunakan.
Data murid berada di satu tempat, nilai di tempat lain, keuangan dalam lembar kerja, presensi pada mesin terpisah, dan komunikasi keluarga tersebar di grup percakapan. Setiap bagian bekerja keras, tetapi informasi harus diketik dan dirapikan berulang kali.
ASIS lahir dari gagasan sederhana: satu aktivitas sekolah seharusnya cukup dicatat sekali, lalu memberi manfaat kepada seluruh pihak yang berwenang. Data SPMB menjadi buku induk, buku induk menghidupi akademik, akademik terhubung kepada keluarga, dan seluruh proses berubah menjadi informasi yang dapat membantu pimpinan serta Dinas.
Kami tidak ingin sekolah membeli banyak aplikasi untuk merasakan satu sekolah yang utuh. Karena itu, Core, Edu, Parent, Office, ID, dan Analytics dibangun sebagai enam layanan dari satu ekosistem.
Bukan sekadar aplikasi administrasi, melainkan fondasi digital untuk seluruh perjalanan sekolah: kelembagaan, kesiswaan, akademik, keluarga, tata usaha, identitas, perangkat, komunitas, dan kebijakan pendidikan.
Fitur boleh bertambah, teknologi boleh berubah, tetapi alasan ASIS dibangun harus tetap mudah dikenali.
Teknologi dipilih karena membantu sekolah, bukan sekadar terlihat modern.
Sekolah Gratis memperoleh fitur dan fondasi keamanan aplikasi yang sama.
Kurangi pekerjaan ulang dan jaga konsistensi informasi antarbagian.
PAUD, sekolah umum, SLB, PKBM, SMK, dan boarding dapat bekerja sesuai kebutuhannya.
Keterhubungan tidak berarti seluruh orang bebas melihat seluruh data.
Sekolah, keluarga, alumni, komunitas, dan Edukator dapat ikut berkontribusi.
ASIS tidak menjadikan biaya lisensi sebagai pintu masuk pendidikan digital. Seluruh aplikasi dapat digunakan gratis setelah sekolah melalui verifikasi dan antrean aktivasi.
Premium dan Premium Plus adalah kontribusi sukarela. Setelah kontribusi terkonfirmasi, sekolah diaktifkan langsung tanpa antrean serta memperoleh prioritas bantuan dan pengakuan kontributor—bukan fitur atau keamanan yang sengaja dikunci.
Pelajari model gotong royong →ASIS dirancang mengikuti keragaman pendidikan Indonesia, bukan memaksa seluruh lembaga bekerja dengan pola yang sama.
Perkembangan dan administrasi pendidikan usia dini.
Kelas, pembelajaran, rapor, dan hubungan keluarga.
Akademik, organisasi, kegiatan, dan kedisiplinan.
Peminatan, evaluasi, kelulusan, dan studi lanjut.
Program keahlian, industri, PKL, dan kompetensi.
Layanan fleksibel untuk pendidikan khusus.
Warga belajar, tutor, dan pendidikan nonformal.
Pendidikan kesetaraan hingga kelulusan.
Akademik dan kehidupan asrama dalam satu data.
Pengembangan ekosistem berikutnya.
Segera HadirFounder ASIS · Pendiri & Direktur Puskomedia Indonesia
"Pendidikan Indonesia layak punya fondasi digital yang setara—gratis, terhubung, dan berpihak pada guru serta siswa. Saya membangun ASIS untuk menjadi masa depan itu."
Akbar Bahaulloh mendirikan ASIS dari satu keyakinan: teknologi pendidikan tidak boleh menjadi barang mewah. Setiap sekolah dan madrasah—negeri maupun swasta, di kota maupun pelosok—berhak atas sistem yang utuh tanpa terganjal biaya lisensi.
Berbekal lebih dari satu dekade membangun sistem informasi dan layanan digital untuk masyarakat melalui Puskomedia, ia kini memusatkan energinya pada pendidikan. Baginya, ASIS bukan sekadar aplikasi sekolah, melainkan infrastruktur bersama yang dicita-citakan menjadi tulang punggung transformasi pendidikan Indonesia.
Arahnya jelas: satu ekosistem tempat data cukup dicatat sekali lalu bermanfaat bagi semua—tempat sekolah, keluarga, dan pemerintah bergerak dari kenyataan yang sama—menuju pendidikan yang lebih terhubung, lebih adil, dan lebih siap menghadapi masa depan.
ASIS didirikan oleh Akbar Bahaulloh dan dikembangkan melalui Puskomedia Indonesia Kreatif serta Pustekno. Keduanya menjadi sarana teknologi, pengetahuan, dan kolaborasi untuk mengubah gagasan ASIS menjadi layanan yang dapat digunakan sekolah.
Pengembangannya terus diperkaya oleh pengalaman sekolah, pendidik, operator, orang tua, praktisi, dan komunitas pendidikan.
Teknologi dan pengembangan ekosistem digital.
Teknologi dan transformasi pelayanan.
Sumber pengalaman, kebutuhan, kritik, dan arah pengembangan.
ASIS akan terus berkembang sebagai infrastruktur bersama yang mengurangi beban administrasi, memperkuat hubungan sekolah dan keluarga, serta membantu kebijakan pendidikan lebih dekat dengan kenyataan lapangan.
Seluruh layanan PRD tersedia untuk pendidikan sekolah dan kesetaraan.
Lebih banyak sekolah, Dinas, perangkat terverifikasi, dan Edukator.
Perluasan ekosistem untuk perguruan tinggi sedang dipersiapkan.
Mulai dari sekolah Anda, bagikan pengalaman, dan bantu teknologi pendidikan Indonesia tumbuh dengan cara yang lebih adil.