www.smktikwt.sch.idMikroTik merupakan salah satu produsen perangkat jaringan komputer dan komunikasi yang banyak digunakan perusahaan telekomunikasi skala internasional saat ini. Sedangkan MikroTik Academy merupakan program yang disiapkan untuk jalur pendidikan, yaitu Politeknik/ universitas/ sekolah kejuruan dan sejenisnya untuk mempelajari MikroTik.

Kelas MikroTik akan banyak menggunakan LAB-Komputer layaknya Pelatihan Sertifikasi MikroTik dan akan terdapat Ujian untuk mengukur seberapa jauh kemampuan yang di miliki siswa. Salah satu persyaratan untuk sekolah menjadi MikroTik Academy adalah salah satu (boleh lebih) guru yang mengajar mempunyai sertifikat MTCNA dan salah satu level advance (MTCRE / MTCWE / MTCTCE / MTCUME) dengan minimal perolehan nilai kedua exam tersebut 75%. Nantinya guru akan memperoleh sertifikat Academy Trainer dan wajib menyelenggarakan training dan exam/sertifikasi MTCNA bagi siswa-siswinya.
Selasa-Selasa, 10-17 Januari 2017 ID-Networkers (IDN Foundation) mengadakan Training Networking angkatan 12 gratis bagi guru TKJ seluruh Indonesia. Training yang dilaksanakan di SMK Madinatul Qur’an, IDN, Jonggol, Bogor, Jawa Barat ini diikuti oleh setidaknya 32 Guru TKJ dari seluruh penjuru nusantara dari 63 kuota yang tersedia. Tentunya sangat disayangkan bagi sekolah yang sudah mendaftar tapi tidak mengikuti training ini. 
Ada banyak materi pelatihan yang disampaikan pada training tersebut, antara lain Cisco CCNA (Cisco Certified Network Acossiate, 2 hari), MikroTik MTCNA (MikroTik Certified Network Associate, 3 hari, disertai exam), dan MTCRE (MikroTik Certified Routing Engineer, 2 hari, disertai exam), serta NMS (Network Management System). Pengajar training merupakan siswa-siswa SMK IDN yang sebagian besar telah mendapatkan sertifikat MTCNA dan MTCRE. Kemampuan mereka jauh di atas kami yang notabene adalah guru Teknik Komputer dan Jaringan di sekolah kami masing-masing. 
Saya sendiri hadir mengikuti training mewakili SMK Tarbiyatul Islam Kawunganten, Cilacap. Materi dan kegiatan kami hari per hari selama pelatihan dapat dibaca di laman wiki.smktikwt.sch.id
Selama proses training ini, ada banyak sekali kesan yang saya dapatkan. Antara lain tentang paradigma dunia Teknik Komputer dan Jaringan itu sendiri, kurikulum, dan metode pembelajaran yang digunakan. Siswa-siswi SMK IDN selama satu semester hanya ada 3 (tiga) mata pelajaran, yaitu Bahasa Inggris, Pendidikan Agama, dan Kejuruan. Bagaimana dengan mata pelajaran lain seperti sejarah, matematika, dll? Mata pelajaran itu hanya dipelajari/diajarkan seminggu sebelum ujian tengah/akhir semester. Dan itu terbukti efektif mencetak siswa-siswi yang berkualitas sesuai kompetensi merka masing-masing. 
Lalu apakah sekolah-sekolah lain harus menggunakan kurikulum yang sama dengan SMK IDN? Tentunya tidak sesederhana itu. Sekolah lain dapat mengadopsi kurikulum IDN secara bertahap, langkah awalnya misalnya, dengan mengurangi atau menghilangkan tugas-tugas mata pelajaran non produktif bagi siswa. 
Seperti yang diungkapkan oleh Sumaryo, peserta training dari SMK Negeri 2 Kota Bekasi. Menurut Sumaryo, sekolah (baca guru-gurunya) dapat mengubah mindset bagi guru-guru bukan produktif untuk mengurangi tugas untuk siswa-siswinya. “Dengan fokus belajar TKJ, siswa akan lebih expert di perusahaan, atau untuk masa depannya, siswa itu akan lebih ahli,” ungkapnya. 
Berbicara tentang kesan, mengikuti training Networking Guru TKJ di IDN ini salah seorang peserta bernama Nurnaning Tiastuti dari SMK PGRI 1 Blitar mengungkapkan bahwa banyak hal positif yang didapat. “Yang paling dasar tempatnya membawa berkah, yang dari training seneng banget dapat saudara dari berbagai pulau di Indonesia,” ungkap ibu yang akrab dipanggil Aning ini.
“Pengenalan MikroTik sama Cisco tambah mantap lah, kalau dulu berangkat ke sana itu hanya dasarnya, kalau sekarang rasa penasaran config yang digunakan perusahaan besar jadi terjawab,” ungkapnya. 
Terkait dengan MikroTik Academy, SMK Tarbiyatul Islam Kawunganten, saya sendiri harus mengulang exam (baca: ujian sertifikasi) MTCRE karena pada exam sebelumnya skor saya masih di bawah 75%. Dan Insya Alloh akan mengulang MTCRE dalam sebulan ke-depan. 
“Kebanyakan orang bekerja, mereka bekerja dengan keras. Tiga puluh lima tahun kerja keras itu melelahkan. Kita  memilih belajar dengan keras, sehingga nanti kerjanya nyante. Lebih baik kita belajar 2-3 tahun dengan keras daripada kerja keras selama puluhan tahun,” begitu kira-kira pak Dedi Gunawan memotivasi kami para peserta. 
Jadi, apakah Anda akan Belajar Keras atau Kerja Keras?